blog-img
21/04/2021

Pusat Peradaban Pencetak Generasi Kader Ulama dan Cendekiawan Muslim

Ahmad Rofii, S.T.P | Berita

smaim-smr.sch.id Layaknya organ tubuh, manusia membentuk sebuah kebersamaan yang sistematik dari kesepakatan untuk saling terkait satu sama lain. Berangkat dari sebuah Visi, “Berkomitmen Untuk Mengembangkan Pendidikan Seimbang Yang Mampu Mengangkat Harkat Dan Derajat Manusia Sebagai Kholifah Fil Ardhiterbangunlah komitmen untuk sebuah jalinan yang dilandaskan atas kesadaran tentang kebersamaan. Sebuah perasaan senasib dan saling membutuhkan yang kemudian terlembagakan. Serta melalui program unggulan yang disusun oleh Pondok pesantren Istiqamah Muhammadiyah dalam harapan besarnya sebagai pusat peradaban mencetak generasi kader, ulama dan cendekiawan muslim yang beriman, berilmu dan berakhlak mulia yaitu :

  1. Long life education
  2. Comprehensive education
  3. Tahfidzul quran

Pola yang tercermin adalah sebuah pemahaman bersama untuk membentuk kondisi yang lebih kondusif dan sinkronisitas antara birokrasi dan masyarakat selalu terhubung satu sama lainnya. istiqamah  Berangkat dari itu, semua pola ini jelas berangkat dari sebuah proses kelembagaan dan terwujud dari kesadaran akan posisi kita sebagai kaum intelektual dan pola pikir yang kritis akan wacana. Hal ini untuk memahami posisi dan peran sebagai kader Muhammadiyah di manapun mereka berada.

 “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung” (Al-Qur’an: Ali-Imran, 104).

Muhammadiyah adalah organisasi dan gerakan orang-orang yang mencintai dan ingin mengikuti jejak dan ajaran Muhammad SAW, Nabi sekaligus Rasul penutup. Muhammadiyah adalah gerakan Islam dan dakwah amar makruf nahi munkar, yang ingin mengamalkan ajaran Islam guna mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Kini, Muhammadiyah usianya sudah melewati satu abad. Amal usahanya cukup banyak. Perannya sudah banyak dirasakan oleh umat dan bangsa. Kontribusinya pada umat dan bangsa cukup banyak. Mulai dari pemikirannya (tentang pembaharuan), pilihannya pada sumber asli Al-Qur’an dan As-Sunnah, sampai kepada model-model pengamalan Islam dalam bidang tabligh, pendidikan, kesehatan, sampai sosial telah banyak dirasakan bagi masyarakat dan negara.

  1. Long life Education

Manusia pada hakikatnya memiliki fungsi individu dan fungsi sosial. Pembawaan dari apa yang telah didapat sebelumnya menjadi tolok ukur manusia untuk mengambil suatu keputusan berdasarkan nilai apa yang mereka anut atau geluti selama ini. Namun, apakah betul keputusan itu murni merupakan suatu yang benar? Inilah yang akan dijadikan sebagai landasan untuk membangun sinergitas pembentukan pola pikir untuk mengarah pola pikir yang bersifat ilmiah namun kritis menanggapi setiap wacana yang sedang berkembang saat ini.

Sebagai seorang Kader Muhammadiyah yakni sebagai Anggota Muhammadiyah teladan. Keteladanannya ditunjukkan dengan kepribadiannya yang bertauhid murni, berakhlak mulia, dan taat beribadah. Selain itu, kader Muhammadiyah juga bermuamalat secara Islami dan berhasil mewujudkan kebiasaan-kebiasaan yang mengantarkannya menjadi seorang pribadi muslim yang sebenar-benarnya. Ia memiliki keyakinan yang mantap dalam bertauhid yang murni, yakni berupa pembebasan diri dari segala hal yang dapat mempengaruhi pikiran, perasaan, dan perbuatannya kecuali yang berasal dari Allah. Laa ilaaha illallah, adalah pernyataan pembebasan dari segala hal kecuali hanya yang berasal dari Allah saja. Ia menjadi sangat merdeka karena segala bentuk ikatannya kepada apapun dan siapapun didasarkan sepenuhnya kepada Allah. Tidak takut kepada apapun, tidak mau terikat dengan siapapun, kecuali kepada Allah dan segala aturan-Nya. Ia beriman pula kepada para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kemudian, takdir baik dan takdir buruk.

Dalam kehidupan kesehariannya, ia senantiasa meningkatkan kualitas akhlak mulianya dan mengikis habis akhlak tercelanya. Ia selalu mengembangkan dirinya menjadi semakin jujur, amanah, sabar, istikamah, iffah, tawadhu’, pemaaf, dermawan, berani, bermujahadah, dan semua sifat akhlak mulia lainnya. Ia juga mengikis habis akhlak tercelanya seperti bohong, khianat, mudah marah, tergesa-gesa, sombong, dendam, takut, sampai kikir. Apabila muncul akhlak tercela tersebut, ia cepat beristighfar kepada Allah, meminta maaf kepada yang bersangkutan. Bersyukur adalah kebiasaannya. Setiap capaian yang baik, ia bersyukur kepada Allah. Demikian pula ketika berhasil menyingkirkan yang buruk, ia juga bersyukur. Ia yakin kekuatan syukur menarik anugerah Allah yang lebih besar lagi menghampirinya. Dengan bersyukur, ia akan berkembang terus menuju puncak kepribadian yang mulia.

Kader merupakan kelompok manusia yang terbaik karena terpilih, menjadi tulang punggung dari kelompok yang lebih besar dan terorganisasi secara permanen.

  1. Inti adalah bagian yang utama, yang penting peranannya dalam suatu proses atau pelaksanaan kerja.
  2. Inti adalah pusat kendali bagi lingkungannya. Ibarat sebuah sel, ia akan berfungsi dengan baik apabila intinya sehat. Kader Muhammadiyah adalah anggota inti yang diorganisir secara permanen dan berkemampuan dalam menjalankan tugas serta misi di lingkungan persyarikatan, ummat, dan bangsa guna mencapai tujuan Muhammadiyah
  3. Kader Muhammadiyah adalah anggota Muhammadiyah yang telah mengikuti perkaderan Muhammadiyah, memiliki integritas dan kompetensi, serta mampu menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai kader. Anggota Muhammadiyah yang telah menyelesaikan perkaderan Darul Arqam atau serial Baitul Arqam dianggap telah memenuhi persyaratan sebagai kader. Namun apabila ia belum melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai kader, ia belumlah termasuk kader. Ia menjadi kader apabila telah meninggalkan jejak-jejak yang dapat dilihat dengan nyata dalam menjalankan tugasnya sebagai kader persyarikatan, kader umat, dan kader bangsa.

 

  1. Comprehensive Education

Islam bukan hanya sekedar agama yang lurus (haq), atau sekedar pencarian keselamatan individu melalui ibadah-ibadah ritual kepada Tuhan.Tetapi Islam juga merupakan ajaran kekokohan perjuangan (Istiqamah). Menjadi seorang Muslim sekaligus menjadi “Pahlawan” yang sanggup berjuang untuk kemaslahatan Ummat dan Bangsa. Dan hal yang terkadang luput untuk dipahami bahwa Islam adalah agama yang paling sempurna untuk menjawab seluruh persoalan dunia dan kemanusiaan, inilah cerminan pokok bahwa Islam merupakan Agama Perjuangan. Seorang muslim yang dengan kokoh menyatakan keyakinan Tauhidnya, melaksanakan kebutuhan Ibadahnya kepada Allah SWT, melakukan pergaulan hidup dalam etika Islam, menciptakan kedamaian dan kesejahteraan dalam kehidupan bermasyarakat, semua itu tidak lepas dari sebuah perjuangan.

Kualitas Kader Ortom Muhammadiyah melalui organisasi otonom (ortom)-nya senantianya mengupayakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar bagi seluruh elemen masyarakat. Kader IPM bukan hanya yang mampu sukses menggerakkan para pelajar untuk ikut kegiatannya seperti Fortasi. Tetapi yang juga mampu menggerakkan para pelajar untuk belajar agama tanpa meninggalkan belajar ilmu umum. Kader IMM bukan hanya mampu menggerakkan massa untuk unjuk rasa dan berkobar dalam berorasi. Tetapi yang mampu menggerakkan massa untuk sholat berjamaah di masjid, menjadi imam sholat dan berkhutbah jumat. Kader Pemuda Muhammadiyah bukan hanya mampu menggerakkan para pemuda dan berperan dalam memelihara dan menjaga persatuan bangsa. Melainkan juga yang mampu memelihara dan menjaga keimanan dalam diri dan sekitarnya. Kader KOKAM bukan hanya yang mampu menjaga keamanan setiap acara persyarikatan, atau yang gagah perwira dengan seragam khas dorengnya. Tetapi juga yang mampu dan mau ikut mendengarkan pengajian, menjaga sholat berjamaah lima waktu di masjid, dan tidak meninggalkan pakaian takwa. Kader Tapak Suci bukan hanya yang mampu melatih diri, memakai dan hafal dengan beragam tekhnik bela diri dengan sempurna. Tetapi juga mereka yang mampu melatih diri untuk menjalankan ibadah dan mengamalkan  gerakan sholat dengan sempurna

Karakter kelembagaan ini akan terus berkembang seiring dengan dinamika sosial zaman yang selalu bergerak. Ada pula yang datang silih berganti. Semua terangkai dalam suasana dan bingkai generasi yang senantiasa berlanjut. Secara universal, dalam perkaderan dipahami, setiap zaman melahirkan generasi yang mewarnai zamannya dan setiap generasi memiliki spirit tersendiri dalam konteks zamannya. Artinya, orang harus menghargai pluralitas dan latar belakang historis masing-masing. Dengan demikian, metodologi perkaderan mesti adaptif dengan kondisi kekinian. Misalnya, pada saat ini, masalah keadilan sosial, kedaulatan, dan kesejahteraan rakyat yang timpang tindih terjadi di Indonesia. Selain itu, tantangan Islamofobia di Barat, khususnya di Amerika serikat, dan invansi terselubung yang dilakukan oleh The Republic of China atau China yang ateis.

Tapi secara umum, ada spirit universal yang mesti hadir dalam kerangka acuan dan tetap relevan dalam konteksnya. Nilai ini menyangkut mentalitas kader, intelektualitas, humanitas, kebersamaan, dan sinergisitas generasi. Dengan ini, dapat dihadirkan kader yang kompeten dan partisipatoris. Potret kader itu perlu berangkat dari ontologi, epistemologi, dan aksiologi perkaderan Muhammadiyah.

Kemampuan naturalis, yaitu kemampuan yang seseorang untuk merasa peka terhadap lingkungan alam sekitar. Orang yang punya potensi kemampuan naturalis akan merasa sakit apabila alam disakiti. Tak hanya itu, potensi ini juga dapat digambarkan dengan adanya kemampuan memahami kehidupan ekologi di bumi. Peran mahasiswa mewujudkan sistem ekologi yang seimbang, selaras, dan serasi dalam hubungan manusia dengan lingkungan.

Kemampuan logika, yaitu kemampuan seseorang untuk berpikir logis dan matematis. Potensi ini berkaitan dengan kecerdasan dalam pikirannya untuk memahami sesuatu secara numerik, termasuk menghitung dan menghapal rumus-rumus matematis. Potensi kemampuan logika bisa diperoleh dari bakat atau belajar. Tidak mungkin sebuah ilmu pengetahuan bisa di dapat hanya dengan melalui membaca saja. Walaupun mungkin dalam bidang tertentu bisa saja ilmu pengetahuan bisa kita dapat dari membaca.

Namun, untuk memaksimalkan dan mematangkan ilmu pengetahuan yang kita dapat dari membaca, perlu dibuktikan atau di uji dengan mendiskusikan apa yang telah kita baca dengan orang lain atau komunitas lain. Ketika ingin melakukan diskusi, sekarang teramat sangat mudah dengan adanya internet. Di mana kita bisa mendiskusikan apa yang telah kita baca dengan banyaknya forum-forum diskusi. Dari hasil diskusi pastilah kita akan mendapatkan wawasan atau mungkin pemahaman baru dari apa yang sudah kita baca tersebut.

Kemampuan linguistik, yaitu kemampuan individu dalam berbahasa. Kemampuan ini memiliki cakupan yang luas, tidak hanya memahami teks deskriptif, namun juga berbicara, berceramah, dan diskusi. Kemampuan ini berkaitan erat dengan kecerdasan yang dimiliki seseorang dalam mengembangkan skill aktualisasi diri secara verbal.

Kemampuan interpersonal, yaitu kemampuan seseorang dalam menjalin hubungan sosial. Potensi kecerdasan seseorang yang piawai melakukan hubungan interpersonal terlihat dari kemampuannya berkomunikasi, melobi, mewawancarai orang lain atau semacamnya. Kemampuan ini adalah tentang menciptakan dan menjaga hubungan antar manusia. Dalam hal ini, mahasiswa memiliki kesempatan untuk terus melatih diri dalam kehidupan sosial agar kelak mereka mampu menjalankan kehidupan bermasyarakat dengan baik. Mahasiswa adalah individu yang seharusnya sudah mampu bersosialilasi dengan baik. Oleh karena itu, segala hal yang dilakukannya diharapkan memberikan dampak positif terhadap segala permasalahan kehidupan sosial dalam masyarakat.

Kemampuan intrapersonal, yaitu kemampuan seseorang dalam memahami, mengatur, serta memanajemen diri sendiri. Orang yang berhasil mengembangkan potensi intrapersonalnya piawai dalam mengambil keputusan, merancang visi, dan menetapkan tujuan hidup. Kemampuan intrapersonal dapat dilatih melalui upaya-upaya pengendalian emosi diri.

Sesungguhnya, peran seorang kader akan benar-benar bermanfaat ketika ia mampu mengemban amanah dengan baik yakni dengan praksis ke masyarakat. Memiliki kesadaran kritis dan mempunyai pisau analisis yang tajam dalam membaca situasi dan kondisi yang tidak sesuai dengan lingkungan.

Dengan demikian maka sudah seharusnya memberikan segala apapun yang Allah amanahkan kepada kita untuk peradaban agama, peradaban ummat dan Islam yang sebenar-benarnya.

 

Samarinda, 04 Februari 2021

Ahmad Rofi’i

 

Bagikan Ke: